STMIK Swadharma

STMIK Swadharma (Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer), adalah merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta yang berdiri pada tahun 1992 dan telah mendapatkan status terakreditasi...

Info Penerimaan Mahasiswa Baru

Untuk anda yang sedang mencari perguruan tinggi untuk melanjutkan studi, berikut adalah info penerimaan mahasiswa baru dari salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta...

Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi

Perkembangan peradaban manusia diiringi dengan perkembangan cara penyampaian informasi (yang selanjutnya dikenal dengan istilah Teknologi Informasi)...

Teknologi Informasi

Teknologi Informasi sering dikaitkan dengan Teknologi Komunikasi, karena keduanya memang saling berhubungan satu sama lain...

Testimoni STMIK Swadharma

Saya merupakan salah satu mahasiswa STMIK Swadharma angkatan 2014, alasan mengapa saya memilih STMIK Swadharma...

Friday, April 24, 2015

Kisah Sukses Sandiaga Uno "Sang Pengusaha Muda"

Sandiaga Salahuddin Uno, demikian namanya. Beliau seorang pengusaha sukses dalam umur yang masih relatif muda yaitu dibawah 40 tahunan. Kalau anda tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) anda pasti mengenal seorang pemuda Sandiaga Uno ini. Menurut The Globe Asia penyandang gelar MBA dari The George Washington University ini adalah orang terkaya ke 63 di Indonesia dengan jumlah kekayaan tidak kurang dari 245 juta dollar.

Sandiaga Uno ini mengatakan dirinya tidak mempersiapkan dirinya sebagai pengusaha, begitu juga orang tuanya, mereka malah lebih suka kalau Sandiaga Uno bekerja di perusahaan. Kiprah bisnis Sandi kini dibentangkan lewat Group Saratoga dan Recapital. Bisnisnya menggurita mulai pertambangan, infrastruktur, perkebunan, hingga asuransi. Namun, dia masih punya cita-cita soal pengembangan bisnisnya. "Saya ingin masuk ke sektor consumer goods. Dalam 5-10 tahun mendatang, bisnis di sektor tersebut sangat prospektif," katanya optimis.

Sandiaga Uno semula adalah pekerja kantoran. Pasca lulus kuliah di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat pada 1990, Sandi mendapat kepercayaan dari perintis Group Astra William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi terus bekerjasama dengan keluarga taipan tersebut.

Di Tanah Air, Sandi hanya bertahan satu setengah warsa. Dia harus kembali ke AS karena mendapat beasiswa dari Bank tempatnya bekerja. Dia pun kembali duduk di bangku kuliah di George Washington University, Washington. Saat itulah, fase-fase sulit harus dia hadapi. Bank Summa ditutup. Sandi yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.

Sandi kemudian sempat bekerja di sebuah perusahaan migas di Kanada. Dia juga bekerja di perusahaan investasi di Singapura. "Saya memanng ingin fokus di bidang yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi," tuturnya. Perusahaan tempat dia bekerja tutup, mau tidak mau dia kemballi ke Indonesia. "Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri saya masih numpang orang tua," katanya.

Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. "Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa bertahan," tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.

Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soerdjaja. Saratoga punya saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.

Bisa dibilang, krisis membawa berkah bagi Sandi. "Saya selalu yakin, setiap masalah pasti ada solusinya," katanya. Sandi mampu memanfaatkan momentum krisis untuk mengepakkan sayap bisnis. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang tersuruk tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-kolega nya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana mereka ke Tanah Air. "itu yang paling sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek".

Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah diujung tanduk itu dan berada dalam perawatan BPPN- lantas berganti PPA-. Kemudian, mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil dan menghasilkan keuntungan. Dari bisnis itulah, nama Sandi mencuat dan pundi-pundi rupiah dikantonginya.

Sandi terlibat dalam banyak pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan. Misalnya, mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah, kepakan sayap bisnis Sandi melebar hingga kini.

Demikian kisah perjalanan Sandiaga Uno, dari kisah ini bisa kita ambil positif nya. Bahwa, tidak ada yang instant untuk menjadi seorang pengusaha sukses, tetapi membutuhkan proses yang tidak sebentar. Juga membutuhkan kerja keras dan juga keyakinan yang kuat.

sumber :


Bambang Haryono "Mengubah Pohon Asem Menjadi Barang Bernilai"

Pohon asam selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi tinggi, alias cuma untuk arang. Namun Bambang Haryono, seorang penggiat UMKM kerajinan asal Banyuwangi, kayu pohon asam bisa disulap menjadi barang yang berguna dan menghasilkan uang.

Melihat adanya potensi bagus, akhirnya Bambang Haryono berbekal keinginan yang kuat, Bambang kemudian menjadikan pohon asam sebagai kerajinan tangan, termasuk limbahnya yang dijadikan ornamen furniture yang berkelas internasional.

Dan saat ini perusahaannya telah memiliki lebih dari 250 pegawai yang dirangkulnya untuk membuat kerajinan kayu. Tenaga kerja itu direkrut dari berbagai kecamatan yaitu Glagah, Kalipuro, Kabat. Bahkan Bambang juga bekerjasama dengan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat maupun Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Banyuwangi.

Dengan kegigihan Bambang, produk kerajinan asal Banyuwangi ini telah beredar ke berbagai negara, seperti Swiss, Belanda, Jerman, Amerika, Jepang, Hongkong, Singapura, dan Malaysia. Tak heran jika tiap bulan omzet yang didapat mencapai Rp. 1 miliar.

Oesing craft bahkan sudah dikontrak oleh perusahaan besar asal Jepang untuk membuat kerajinan kayu. "Berapa pun yang kita produksi, mereka siap menerima. Bahkan untuk pengiriman ke Jepang itu ada batas minimum jumlah," kata Bambang Bangga.

Karena keuletan dan kegigihan itu, berbagai penghargaan telah diraih seperti penghargaan dari UNESCO Award of Excellence for Handycraft pada 2012 lalu untuk wilayah Asia Tenggara.

Selain itu juga meraih piagam penghargaan SMESCO Award Tahun 2009, Juara 2 Desain Cindera Mata Jatim 2009, Prabaswara Award di bidang Ekspor 2012, dan berbagai penghargaan bidang kerajinan serta pemberdayaan masyarakat.

 sumber :

Perjalanan Dian Siswarini (CEO XL Axiata)

Dian Siswarini
CEO XL AXIATA
Bagi saya, dunia Telekomunikasi (Telko) adalah sebuah dunia yang menarik. Dibanding dengan bidang lain, Telko adalah bidang yang selalu berkembang dan cepat berubah (Dinamis). Hal itu yang membuat saya tertarik dengan bidang ini.
Hal itu pula yang membuat saya memutuskan untuk fokus pada bidang Telko setelah saya lulus dari Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun 1991. Tempat kerja pertama saya adalah PT. Citra Sari Makmur (PT. CSM) dan disitu saya bertindak sebagai Supervisor di bidang Engineering.
Perjalanan karir saya selanjutnya makin menentukan fokus saya di bidang Telko. Setelah tahun 1991 saya bekerja di CSM, pada 1994 saya bergabung dengan PT. Satelindo. Saat itu saya menjabat sebagai Supervisor.
Tak lama, saya pindah ke XL yang saat itu masih dibawah naungan PT. Excelcom. Tepatnya pada 1996, sebagai Radio Engineer. Sebagai lulusan Engineering, banyak yang menyebut saya bekerja di bidang pekerjaan laki-laki. Saya memang menghabiskan waktu di lapangan yang membuat saya harus memanjat tower BTS.
Saya merasakan suasana seperti rumah di XL dan itulah yang membuat saya terus berkarir disini. Setahun kemudian, saya diangkat menjadi Manager Network Design & Engineering.
 Kerja keras dan passion membuat saya akhirnya bisa menempati posisi Vice President Network pada 2005. Posisi yang membuat saya makin dipercaya di XL sampai membuat saya berturut-turut diberi amanah memegang posisi Direktur Digital Services Officer di Departemen Content and New Business (2013). Tahun 2014 saya di-challenge untuk bekerja di induk usaha XL yaitu PT. Axiata di Malaysia sebagai Group Chief of Marketing and Operation Officer.
Saya selalu percaya, kita tidak boleh menolak segala jenis tantangan apapun. Seperti saat saya ditantang untuk mengambil Executive Program di Harvard Advance Management Program, Harvard Business School, Amerika Serikat pada 2013.
Keberhasilan saya menerima tantangan tersebut serta bekal 20 tahun berkarir didunia Telko, Alhamdulillah membuat saya per 1 april 2015 ini dipercaya sebagai CEO PT. XL.Axiata, setelah per Januari 2015 saya ditetapkan sebagai Deputy CEO melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT. XL Axiata.

Kesimpulan yang bisa diambil:
- Kita harus giat dalam menekuni suatu pekerjaan, serta fokus dalam bidang yang kita sukai.
- Seperti yang sudah Dian Siswarini katakan "kita tidak boleh menolak segala jenis tantangan", karena bisa jadi tantangan itu sendiri yang akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.
 
sumber :