Sandiaga Salahuddin Uno, demikian namanya. Beliau seorang pengusaha sukses dalam umur yang masih relatif muda yaitu dibawah 40 tahunan. Kalau anda tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) anda pasti mengenal seorang pemuda Sandiaga Uno ini. Menurut The Globe Asia penyandang gelar MBA dari The George Washington University ini adalah orang terkaya ke 63 di Indonesia dengan jumlah kekayaan tidak kurang dari 245 juta dollar.
Sandiaga Uno ini mengatakan dirinya tidak mempersiapkan dirinya sebagai pengusaha, begitu juga orang tuanya, mereka malah lebih suka kalau Sandiaga Uno bekerja di perusahaan. Kiprah bisnis Sandi kini dibentangkan lewat Group Saratoga dan Recapital. Bisnisnya menggurita mulai pertambangan, infrastruktur, perkebunan, hingga asuransi. Namun, dia masih punya cita-cita soal pengembangan bisnisnya. "Saya ingin masuk ke sektor consumer goods. Dalam 5-10 tahun mendatang, bisnis di sektor tersebut sangat prospektif," katanya optimis.
Sandiaga Uno semula adalah pekerja kantoran. Pasca lulus kuliah di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat pada 1990, Sandi mendapat kepercayaan dari perintis Group Astra William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi terus bekerjasama dengan keluarga taipan tersebut.
Di Tanah Air, Sandi hanya bertahan satu setengah warsa. Dia harus kembali ke AS karena mendapat beasiswa dari Bank tempatnya bekerja. Dia pun kembali duduk di bangku kuliah di George Washington University, Washington. Saat itulah, fase-fase sulit harus dia hadapi. Bank Summa ditutup. Sandi yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.
Sandi kemudian sempat bekerja di sebuah perusahaan migas di Kanada. Dia juga bekerja di perusahaan investasi di Singapura. "Saya memanng ingin fokus di bidang yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi," tuturnya. Perusahaan tempat dia bekerja tutup, mau tidak mau dia kemballi ke Indonesia. "Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri saya masih numpang orang tua," katanya.
Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. "Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa bertahan," tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.
Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soerdjaja. Saratoga punya saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.
Bisa dibilang, krisis membawa berkah bagi Sandi. "Saya selalu yakin, setiap masalah pasti ada solusinya," katanya. Sandi mampu memanfaatkan momentum krisis untuk mengepakkan sayap bisnis. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang tersuruk tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-kolega nya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana mereka ke Tanah Air. "itu yang paling sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek".
Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah diujung tanduk itu dan berada dalam perawatan BPPN- lantas berganti PPA-. Kemudian, mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil dan menghasilkan keuntungan. Dari bisnis itulah, nama Sandi mencuat dan pundi-pundi rupiah dikantonginya.
Sandi terlibat dalam banyak pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan. Misalnya, mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah, kepakan sayap bisnis Sandi melebar hingga kini.
Demikian kisah perjalanan Sandiaga Uno, dari kisah ini bisa kita ambil positif nya. Bahwa, tidak ada yang instant untuk menjadi seorang pengusaha sukses, tetapi membutuhkan proses yang tidak sebentar. Juga membutuhkan kerja keras dan juga keyakinan yang kuat.
sumber :






0 comments:
Post a Comment